Pengembangan tes diagnostik kognitif berkarakter HOTS matematika di sekolah menengah pertama

Utariningsih Utariningsih

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen tes diagnostik kognitif berkarakter HOTSmatematika pada materi spldvyang valid dan reliabel, sertamengetahui kelemahan dan kesulitan belajar siswa dalam menyelesaikan soal berkarakter HOTS. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan, yang diadaptasi dari model pengembangan Zulkardi, yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut: tahapan preliminary dan tahapan formative evaluation. Pada tahapan formative evaluation ini langkah yang diambil mengikuti langkah-langkah yang dikemukakan oleh Tessmer yang meliputi (1) self-evaluation, (2) prototyping (expert review, one-to-one,dan small group), dan (3) field test. Instrumen yang berhasil dikembangkan 11 butir soal uraian dengan koefisien korelasi 0,88 dan reliabilitas sebesar 0,921 memiliki rata-rata tingkat kesukaran 0,573 (sedang), dan rata-rata daya pembeda 0,335 (baik), sedangkan hasil penelitian siswa mengalami kesulitan pada level menganalisis  46,25%, pada level mengevaluasi sebesar 32,67% sedangkan pada level mencipta 43,5%, jadi urutan tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal berkarakter HOTSpada level mengevaluasi, mencipta dan menganalisis.

 

The development of cognitive diagnostic tests infringing HOTS mathematics in junior high school

 

Abstract

This study aims to produce a cognitive diagnostic test instrument of HOTS character in mathematics on valid and reliable spldv material, to know the weakness and difficulty of student learning in solving the problem of HOTS character. This research is a research and development, adapted from Zulkardi's development model, which includes the following steps: preliminary stages and formative evaluation stages. At this stage of formative evaluation the steps taken follow the steps proposed by Tessmer which include (1) self evaluation, (2) prototyping (expert review, one-to-one, and small group), and (3) field test. The successful instrument developed 11 points of description with the correlation coefficient of 0.88 and reliability of 0.921 has an average of 0.573 (medium) difficulty level, and average distinguishing power of 0.335 (good), while the results of research students have difficulty at level analyzing 46 , 25%, evaluating at 32.67% while creating 43.5% level, so the order of students' difficulty level in solving the HOTS character problem at level analyze, create and evaluate.


Keywords


tes diagnostik kognitif; higher order thinking skills; hots; matematika.

References


Adiyanti. (2016). Mutu pendidikan matematika di Indonesia masih rendah. Diambil pada tanggal 20 April 2017, dari http://ugm.ac.id/id/berita.

Arikunto, S. (2006). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Azwar, S. (2010). Tes prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiman, A., & Jailani, J. (2014). Pengembangan instrumen asesmen higher order thinking skill (HOTS) pada mata pelajaran matematika SMP kelas VIII semester 1. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 1(2), 139-151. doi:https://doi.org/10.21831/jrpm.v1i2.2671

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's taxonomy: An overview. Theory into practice, 41(4), 212-218.

Lewy, L., Zulkardi, Z., & Aisyah, N. (2013). Pengembangan soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi pokok bahasan barisan dan deret bilangan di kelas IX akselerasi SMP Xaverius Maria Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, 3(2). doi:https://doi.org/10.22342/jpm.3.2.326.

Prihatni, Y., Kumaidi, K., & Mundilarto, M. (2016). Pengembangan instrumen diagnostik kognitif pada mata pelajaran IPA di SMP. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 20(1), 111-125. doi:https://doi.org/10.21831/pep.v20i1.7524

Suryadi, D. (2005). Pengunaan pendekatan pembelajaran tidak langsung serta pendekatan pengabungan langsung dan tidak langsung dalam rangka meningkatkan kemampuan berpikir matematika tingkat tingg siswa SLTP. Disertasi pada SPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Suwartini, S. (2017). Pengembangan tes untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi pada mata pelajaran ekonomi. Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 5(2). doi:http://dx.doi.org/10.30738/wiyata dharma.v5i2.3382

Suwarto (2013). Pengembangan tes diagnostik dalam pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tessmer, M. (1998). Planning and conducting formative evaluations. Philadelphia: Kogan Page.

Thomas, A. & Thorne, G. (2011). Higher level thinking-it’s hot! Retrived from http://www.cdl.org/articles/higher-order-thinking-its-hot/.

Thompson, T. (2008). An analysis of higher order thinking on algebra i end-of coursetests. www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/thompson.pdf. Diakses 15 April 2017.

Widoyoko, S. E. P. (2013). Evaluasi program pembelajaran: panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zulkardi, Z. (2002). Developing a learning environment on realistic mathematics education for Indonesian student teachers (Doctoral dissertation, University of Twente, Enschede).




DOI: http://dx.doi.org/10.30738/wd.v6i2.3397

DOI (FULLTEXT PDF (Bahasa Indonesia)): http://dx.doi.org/10.30738/wd.v6i2.3397.g1979

Article Metrics

Abstract view : 205 times
FULLTEXT PDF (Bahasa Indonesia) - 215 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Creative Commons License
Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/wd.

 

Wiyata Dharma Stats