PENGARUH TINGGI PANGKAS DAN SAAT PEMBERIAN CAMPURAN PUPUK MUTIARA DAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) VARIETAS LOGAWA DENGAN SISTEM SALIBU

Penulis

  • Eli Nafi Atun
  • Zamroni Zamroni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
  • Darnawi Darnawi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Kata Kunci:

padi varietas logawa, sistem salibu, tinggi pangkas, saat pemberian pupuk,

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkas dan saat pemberian campuran pupuk mutiara dan urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi (Oryza sativa L.) varietas logawa dengan sistem salibu. Penelitian dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian Dan Pedesaan Swadaya P4S “Lestari Makmur†bertempat di Jalan Wates Km.12 Polaman Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada 1 desember 2019 - 2 maret 2020. Penelitian ini merupakan hasil salibu yang kedua. Dilakukan dengan menggunakan dua factor yang disusun menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap ( RAKL). Faktor pertama adalah tinggi pangkas dan factor kedua yaitu saat pemberian pupuk. Variabel yang akan diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot segar tanaman, berat kering tanaman, persentase anakan produktif, presentase gabah isi per rumpun, bobot 1000 butir, produksi hasil gabah per ha. Analisis data dengan menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan (DMRT) pada taraf α = 5%. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tinggi pangkas dan saat pemberian pupuk sebagian besar tidak memberikan pengaruh beda nyata. 1 parameter (tabel 1 tinggi tanaman) ada bedanyata dan 1 parameter ada interaksi antar perlakuan terhadap parameter (tabel 9 hasil ton / ha). Perlakuan tinggi pangkas 3 cm memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingan dengan tinggi pangkas 1 cm dan 6 cm. Perlakuan saat pemberian pupuk setelah pangkas memberikan pertumbuhan dan hasil lebih tinggi di bandingan dengan 5 hari setelah pangkas dan 10 hari setelah pangkas

Referensi

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 172 hlm

Akhgari. H, Niyaki S.A.N. 2014. Effects of first harvest time on total yield and

yield component in twice harvesting of rice (Oryza sativa L.) in Rasht,

Iran. Int. J. Biosci. 4(5): 210-215.

Badan Pusat Statistik .2011. Produksi Tanaman Padi Seluruh Provinsi.

http://bps.tnmnpgn.go.id. Diakses tanggal 26 November 2019.

De Datta, S.K. 1981. Principles and Practise of Rice Production. John Willey and

Sons, New York. 618p

Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2004. Pemupukan Berimbang.

Erdiman, Nieldalina, Misran, dan Ekamirnia. 2014. Pengembangan Teknologi

Salibu pada Dadi Sawah di Tiga Agroekosistem zone (AEZ) di Sumatra

Barat. Laporan Hasil Pengkajian Tahun 2014. BPTP Sumatra Barat.

Kartasapoetra, A.G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah

Tropika Bina Aksara. Jakarta. 418 hlm.

Krishnamurthy K. 1988. Rice ratooning as an alternative to double cropping in

Asia. Di dalam: Smith WH,

Sudarmaji dan N. A. Herawati. 2008. Ekologi Tikus sawah dan teknologi

pengendaliannya. Dalam: Darajat et al (ed). Padi:Ineovasi Teknologi

Produksi. Buku 2. LIPI Press. Jakarta, p 295- 322

Sudarmaji dan Nur ‘Aini Herawati. 2017. Perkembangan Populasi Tikus Sawah

pada Lahan Sawah Irigasi dalam Pola Indeks Pertanaman Padi 300.

Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Hal. 125. Pusat Penelitian

dan Pengembangan Pertanian. Hal. 125.

Suhartatik. 2008. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Padi.

http://www.google.com/url.litbang.deptan.go.id%spesial%padi2009.

Diakses 8 Desember 2019.

Susilawati, T. 2011. Spermatozoatology. Universitas Brawijaya Press. Malang

Vicky Silvia Nuzul1, Didik Indradewa2, Dody Kastono2, 2018 . Pengaruh Waktu

dan Tinggi Pemotongan Tunggul terhadap Komponen Hasil dan Hasil

Padi (Oryza sativa L.) Ratun. Vegetalika.

https://journal.ugm.ac.id/jbp/article/view/35773 diakses pada tanggal 11

Desember 2019

Unduhan

Diterbitkan

2021-05-27