INPARI SEBAGAI VARIETAS PADI ALTERNATIF DI LAHAN RAWA LEBAK PROVINSI SUMATERA SELATAN

Penulis

  • Wahyu Wahyu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan
  • Suparwoto Suparwoto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan

Abstrak

Pada umumnya petani menanam padi di lahan rawa lebak hanya satu kali dalam setahun pada musim kemarau, dimana penanaman padi dilakukan setelah air pada rawa lebak dangkal mulai menyurut dan selanjutnya diikuti oleh lebak tengahan dan dalam. Penanaman varietas padi yang adaptif pada lahan sawah lebak adalah salah satu upaya penting yang perlu ditempuh sehingga produktivitasnya lebih tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama dan mempunyai kualitas beras yang baik. Pada periode tahun 2000-2010 Badan Litbang Pertanian telah merilis sekitar 85 varietas unggul baru (VUB) padi diantaranya, varietas Inpara yaitu varietas padi rawa yang toleran keracunan Fe dan Al serta toleran terendam selama 7-14 hari fase vegetatif (Inpara 3, Inpara 4 dan Inpara 5) dan varietas inpari untuk lahan sawah irigasi. Berdasarkan hasil kajian varietas inpari dapat tumbuh dan memberikan hasil yang baik di lahan rawa lebak. Produksi dari varietas Inpari 1, Inpari 4, Inpari 6 dan Inpari 13 yang ditanam dengan sistem jajar legowo 4:1 di rawa lebak tengahan rata-rata 6,95 ton gkp/ha. Dengan semakin banyaknya varietas unggul yang dilepas, petani lebih banyak mempunyai pilihan akan varietas yang sesuai dengan keinginan dan spesifik wilayahnya. Hal ini akan memperluas keragaman genetik tanaman di lapangan sehingga dapat menekan resiko terjadinya ledakan hama dan penyakit tertentu. Adapun tujuan dari penulisan ini untuk memberikan informasi bahwa varietas inpari yang mempunyai rasa nasi pulen bisa beradaptasi di lahan rawa lebak sehingga dapat memberikan banyak pilihan varietas yang disukai petani.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2019-03-26

Terbitan

Bagian

Artikel