GAYA HIDUP KAUM WARIA DALAM AKTIVITAS SOSIAL KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN MAGUWOHARJO KECAMATAN DEPOK SLEMAN YOGYAKARTA

Penulis

  • Yuliance Ona Being Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.30738/keluarga.v7i1.8589

Kata Kunci:

Lifestyle, Transgender, Expression

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana seorang waria mengekspresikan diri terhadap gaya hidup dalam menghadapi stigma dari masyarakat. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi gaya hidup sehari-hari  para warai DIY (komunitas Seruni dan Kebaya) dalam mengekspresikan dirinya dan subjek dalam  penelitian ini adalah para waria. Metode pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan teknik trianggulasi teknik dan triangguasi sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. 1) Hasil penelitian menunjukan bahwa para waria dalam mengekspresikan diri terhadap gaya hidup/lifestyle dengan berpakaian dan berdandan sebagaimana seorang perempuan menimbulkan stigma dan pandangan negatif akan hadirnya kelompok minoritas. Keluarga dan lingkungan juga menjadi salah satu tempat terpenting dalam membina mental anak dan mendampingi mereka semasa pertumbuhannya, agar tidak terjadi perubahan identitas dalam diri anak-anak pada usia pertumbuhan mereka.

 

The purpose of this study was to determine how a transgender woman expresses herself about her lifestyle in the face of stigma from society. This research is a qualitative descriptive research. Sources of data in this study were interviews and observations of the daily lifestyle of the DIY transgender (Seruni and Kebaya communities) in expressing themselves and the subjects in this study were transgender women. Data collection methods include: observation, interviews and documentation. The validity of the data was carried out by using the triangulation technique and source triangulation. Data analysis techniques used data reduction, data presentation and conclusions. 1) The results of the study show that transgender women in expressing themselves about their lifestyle by dressing and dressing as a woman creates a stigma and negative views on the presence of minority groups. Family and the environment are also one of the most important places in mentally nurturing children and accompanying them during their growth, so that there is no change in identity in children at their growing age.

Referensi

B, A‟malia. (2010). Fashion Dan Identitas Diri Waria (Studi Etnografi Simbol simbol Komunikasi Non-verbal dalam Fashion Sebagai Pembentuk Identitas Diri di kalangan Waria di kota Yogyakarta). Yogyakarta: Universitas Sebelas Maret.

Boellstorff, Tom. The Gay Archipelago. 2005. United Kingdom: Princeton University Press.

Dewi Rokhmah (2015). Pola Asuh dan Pembentukan Perilaku Seksual Beresiko Terhadap HIV/AIDS pada Waria. Jurnal Kesahatan Masyarakat: universitas Jember

Indah Lestari, Siti Sefitri (2016). “Konseling bagi Populasi Transgenderâ€.Jurnal konseling (vol.2 N0.1).

Ki Hadjar Dewantara. 2013. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung.

Nurdelia dkk. (201 ). Transgender Dalam Persepsi Masyarakat. Universitas Negeri Makassar. Jurnal Psikologi vol.3.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono.(2016). Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Syamsidar, A.Fauziah Astrid. 2019. (Transgender dan Konsep Diri) (Study Kasus

Homoseksual Di Makasar ). Jurnal Psikologi ( vol.3 no.2).

Diterbitkan

2021-03-08

Terbitan

Bagian

Artikel