MERDEKA BELAJAR YANG TERCERMIN DALAM KOMPETENSI PROFESIONAL GURU BAHASA INGGRIS SMP NEGERI 01 SEDAYU

Penulis

  • Yulius Obeta Pendi

Abstrak

ABSTRACT: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis merdeka belajar yang tercermin dalam kompetensi profesional guru yang mengajar Bahasa Inggris SMP Negeri 01 Sedayu. Rumusan masalah yang diteliti adalah “apa pengaruh merdeka belajar yang tercermin dalam kompetensi profesional dalam mengajar Bahasa Inggris?.â€

              Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Objek penelitin 2 orang guru Bahasa Inggris. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini digunakan instrument observasi dan interview guru Bahasa Inggris. Gaya belajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang baik seperti menguasai materi pelajaran dan menggunakan teknologi pendukung. Kompetensi  profesional tersebut dipetakan berdasarkan  lampiran Permendiknas No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional Pendidikan. Kompetensi  professional guru yaitu menguasai materi, mengembangkan materi, dan menggunakan teknologi informasi. Merdeka belajar merupakan kebebasan siswa untuk menggali ilmu dari berbagai sumber dan berfikir kreatif. Pemahaman Bahasa Inggris terkait vocabulary dan tenses Bahasa Inggris harus menciptakan suasa pembelajaran yang merdeka dan menyenangkan. Penelitiian ini diharapkan akan menghasilkan proses pembelajaran yang baik dan membahagiakan.

              Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa rata-rata kompetensi profesioanal guru dalam berada pada kategori baik karena guru menyampaikan materi pembelajaran dengan dengan jelas seperti tenses dan vocabulary dan juga menggunakan teknology informasi dan komunikasi seperti infokus, video, dan speaker tentang penggunaan tenses di kehidupan sehari-hari. Dengan demikian para siswa dapat memperoleh ilmu dari penguasaan materi guru Bahasa Inggris tidak hanya dari satu sumber seperti buku, melainkan dari berbagai sumber sehingga membuat kelas terasa lebih jelas dan menyenangkan.

Keywords:  Merdeka belajar,  Kompetensi Profesional, Guru Bahasa Inggris.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT: This study aims to analyze the independence of learning that supports the professional competence of teaching English at SMP Negeri 01 Sedayu. The problem statement that refutes is "what is the effect of independent learning that requires professional competence in teaching English?"

               The research method used is qualitative research. The object of research is 2 English teachers. To collect data in this study used observation instruments and interviews with English teachers. Learning styles in learning good English such as mastering subject matter and using supporting technology. The professional competencies are mapped based on the attachment to Permendiknas No. 19 of 2005 concerning national education standards. The teacher's professional competence is to master the material, develop the material, and use information technology. Free learning is the freedom of students to explore knowledge from various sources and think creatively. Understanding of English related to vocabulary and tenses English must create a learning atmosphere that is free and enjoyable. This research is expected to produce a good and happy learning process.

               The results obtained state that the average professional competence of teachers in the category is good because the teacher conveys learning material clearly such as tenses and vocabulary and also uses information and communication technology such as information, videos, and speakers about the use of tenses in daily life. . Thus students can gain knowledge from the mastery of English teacher material not only from one source such as a book, but from various sources so as to make the classroom feel clearer and more enjoyable.

Keywords: Free learning, Professional Competence, English teacher.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu proses untuk mendewasakan manusia dan memanusiakan manusia. Keberhasilan proses pendidikan sangat tergantung dengan beberapa faktor. Faktor-faktor Pendidikan itu adalah guru (pendidik), anak didik, materi, metode, dan sarana prasarana. Jika salah satu dari beberapa faktor itu tidak ada, ini akan menyebabkan keberhasilan dalam Pendidikan menjadi terhambat. Oleh sebab itu, guru memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Mereka ada sebagai bagian dalam kegiatan belajar mengajar yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik yang menimba ilmu. Menurut Hamalik (2006) guru adalah jabatan yang berbagai keahlian khusus. Sementara Uno (2010) berpendapat bahwa guru merupakan suatu profesi yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai seorang guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang Pendidikan. Guru juga dituntut agar bisa mengajar dengan baik dan menyenangkan. Selain harus terampil, guru juga harus memiliki wawasan yang luas tentang ilmu pengetahuan dibidang studi yang mereka ajarkan dan juga mampu untuk bersosialisasi dengan baik. Menurut Suparlan (2008:12), guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspek, baik spiritual dan emotional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 dalam Depdiknas (2005) tentang guru dan dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidik anak usia dini jalur Pendidikan formal disekolah dasar dan menengah.

Kompetensi Profesional guru adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran dan mengembangkannya secara luas dan mendalam menjadi materi yang lebih menarik dan menyenangkan untuk didiskusikan serta menggunakan teknologi sebagai media untuk mendukung pembelajaran tersebut. Pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan untuk membimbing  siswa dalam memahami topik pelajaran dan memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Pendidikan Nasional.

Kompetensi yang wajib dimiliki guru terdiri dari 4 kompetensi yakni kompetensi pedagogic, kepribadian, sosial, dan profesioanal tapi didalam tindakan pembelajaran didalam kelas kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi pedagogic dan kompetensi profesional. Dalam pasal 3 ayat (3) PP No 74/2008 tentang guru, kompetensi tersebut bersifat hilistik. Yang dimaksud dengan holistic adalah ke-4 kompetensi tersebut wajib dimiliki oleh seorang guru dan bersifat kesatuan sehingga tidak dapat dipisahkan. Namun, ke-4 kompetensi tersebut peneliti lebih memfokuskan pada kompetensi professional. Peneliti memahami bahwa kompetensi tersebut bersifat holistic sehingga bersifat satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Akan tetapi disini peneliti ingin mengetahui lebih mendalam tentang kemampuan guru menguasai dan mengembangkan materi dengan baik serta menggunakan teknologi sebagai media pendukung proses pembelajaran sehingga mencerminkan merdeka belajar dimana anak-anak mengetahui pembelajaran dari berbagai sumber.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran dan mengontrol kelas dengan baik, sedangkan kompetensi professional merupakan kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran, mengolah materi, dan menggunakan teknologi sengagi media pendukung proses pembelajaran didalam kelas. Dalam artikel ini, peneliti meneliti tentang kompetensi professional guru dalam mencerminkan merdeka belajar bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris didalam kelas. Kompetensi profesional yang dimaksud adalah kemampuan guru dalam menguasai masalah akademik yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan baik dan penuh tanggung jawab didalam kelas. Dalam standar nasional pendidikan, penjelasn pasal 28 ayat (3) butir c mengemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi professional adalah kemampuan menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa didalam memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Menurut Sanjaya (2008) kompetensi professional adalah kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting, sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Beberapa kemampuan yang berhubungan dengan kompetensi ini diantaranya: menguasai materi ajar, mengembangkan materi, mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pendukung dalam proses pembelajaran.

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, seorang guru juga dituntut untuk mengembangkan kemampuannya dalam mendidik siswa. Guru yang profesional tentu saja harus selalu tanggap terhadap perubahan zaman, kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi, serta harus mencapai beberapa kriteria guru profesional. Sebagai tenaga professional, guru harus mampu mengembangkan kepribadian, berinteraksi serta juga berkomunikasi, melaksanakan administrasi sekolah, menjalankan penelitian sederhana sebagai keperluan dalam pengajaran, menguasai landasan kependidikan, menguasai pelajaran, menyusun sebuah program pengajaran (RPP), dan juga mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dijalankan. Dalam proses pembelajaran, guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri dari berbagai sumber demi menciptakan pembelajaran yang merdeka (Ki Hadjar Dewantara dalam buku “Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952).

Berdasarkan metode belajar yang dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara diatas, metode pengajaran yang menekankan kepada penyadaran diri dari masing-masing peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari tahapan-tahapan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara yang melihatkan pentingnya sebuah pendekatan. Peserta didik diajarkan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan yang didapatkan.

 

Merdeka belajar adalah kempuan berfikir siswa yang kreatif dalam mencari pengetahuan dari berbagai sumber. Siswa bisa bebas memilih belajar dari berbagai sumber belajar dan bebas dari tekanan (seperti istilah Ki Hadjar, sekolah harus menjadi taman belajar bagi siswa). Merdeka belajar juga menjadi salah satu program inisiatif dari Menteri Pendidikan (Nadiem Makarim) yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia, baik bagi murid maupun para guru. Maka dari itu guru yang memiliki kompetensi professional wajib mengajar dengan menciptakan belajar yang merdeka supaya proses pembelajaran bisa membuat siswa lebih kreatif untuk menimba ilmu secara mendalam dimana menciptakan suasana yang membahagiakan.

Dalam merdeka belajar, guru disamping berperan sebagai salah satu sumber belajar, juga berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Sebagai seorang fasilitator pembelajaran, tentunya guru harus merancang sebuah pembelajaran yang menyenangkan sehingga para peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Merdeka untuk menilai belajar siswa dengan berbagai jenis dan bentuk instrument penelitian, merdeka dari berbagai pembuatan administrasi yang memberatkan, merdeka dari politisasi profesi guru, dan merdeka dari berbagai tekanan dan intimidasi terhadap mereka.

Guru yang memiliki kompetensi professional akan bisa mewujudkan konsep dan mencerminkan merdeka belajar dengan baik karena mereka dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan materi pembelajaran. Guru Bahasa Inggris adalah tenaga pendidik yang mengajar sesuai dengan bidangnya yaitu mengajar Bahasa Inggris. Untuk menjadi guru Bahasa Inggris yang memiliki kompetensi professional dan yang mencerminkan merdeka belajar, maka seorang guru Bahasa Inggris harus bisa membuat pembelajaran didalam kelas terasa menyenangkan dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan membaca pengetahuan dari berbagai  sumber sehingga terciptalah cerminan merdeka belajar dimana anak-anak akan menemukan sendiri masing-masing  pengetahuan dengan cara mereka sendiri dan menurut pemahaman masing-masing siswa mengenai cara belajar Bahasa Inggris dengan baik.

Bahasa Inggris merupakan Bahasa asing dalam posisinya di system Pendidikan Nasional. Untuk mempelajarinya tidaklah mudah dan perlu pemikiran dan keterampilan yang tinggi. Kita mengetahui bahwa Bahasa Inggris terdiri atas komponen pengetahuan (ilmu) dan keterampilan (penerapan). Komponen ilmu meliputi paling kurang tata bahasa, kosa kata, ejaan, lafal, sementara keterampilan mencakup menyimak/mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Dalam penggunaan Bahasa, Bahasa Inggris diterapkan dalam keterampilan berbahasa. Oleh sebab itu diperlukanlah guru yang memiliki kompetensi professional yang selalu bisa mengembangkan pembelajaran menjadi lebih baik dan menarik. Hal ini dapat membuat siswa bisa berimajinasi dan membuat pembelajaran lebih bervariasi. Dalam hal ini, guru Bahasa Inggris meneliti tentang bagaimana merdeka belajar yang tercermin dalam kompetensi professional guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 01 Sedayu.

 

 

B. METODOLOGI PENELITIAN

              Stake (1995) menjelaskan bahwa jenis studi kasuis tergantung pada tujuan Pendidikan; studi kasus instrumental digunakan untuk memberikan wawasan tentang suatu masalah; sebuah studi kasus intrinsic dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kasus ini, dan studi kasus kolektif adalah studi tentang beberapa kasus untuk menyelidiki fenomena tertentu. Jenis studi kasus lainnya didasarkan pada tujuan tertentu, seperti studi kasus pengajaran.

              Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang digunakan untuk menguji peristiwa-peristiwa yang terjadi dan kemudian menelusurinya dengan cermat untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan peristiwa-peristiwa tersebut dan kata kunci instrument (Sugiyono, 2005). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Objek penelitiannya adalah guru Bahasa Inggris SMP Negeri 01 Sedayu. Teknik pengumpulan data akan memproduksi data yang akurat dan tujuannya dinyatakan dalam bentuk jawaban sementara untuk pertanyaan penelitian. Pengumpulan data adalah proses atau kegiatan yang dilakukan oleh peneliti untuk mengugkap atau menangkap berbagai fenomena, informasi, atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan ruang lingkup penelitian. Moleong (2012:168) menjelaskan bahwa pengumpulan data kualitatif tergantung pada diri sendiri sebagai sarana pengumpulan data, analisis, interpretasi data, dan akhirnya menjadi pelopor hasil penelitiannya. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti melakukan beberapa Teknik dalam mengumpulkan data:

  1. Observasi

              Observasi adalah kegiatan mengamati objek dengan cermat dan langsung di lokasi penelitian (didalam kelas), serta secara sistematis merekam gejala yang akan dipelajari. Menurut Basrowi (2012) observasi adalah Teknik yang dilakukan dengan mengamati penelitian secara penuh sistematis dan rekaman.

  1. Wawancara

              Wawancara adalah percakapan atara dua orang atau lebih yang dilakukan oleh pewawancara dan narasumber. Wawancara memiliki tujuan yang jelas dan makna yang melebihi niat percakapan biasa. Menurut Anas Sugiono (1998: 92), wawancara adalah cara untuk mengumpulkan bahan informasi yang dilakukan pertanyaan lisan dan jawaban secara sepihak. Wawancara dengan tatap muka dan tujuan yang telah ditentukan.

  1. Dokumentasi
        Dokumentasi adalah kegiatan atau proses sistematis dalam mengumpulkan, mencari, menyelidiki, menggunakan, dan menyediakan dokumen untuk memperoleh informasi, pengetahuan, bukti dan menyebarkannya kepada pengguna. Menurut Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2006: 216-217) dokumentasi adalah bahan selain dari catatan yang tidak disiapkan karena permintaan dari penyelidik. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data, peneliti mengumpulkan dokumen seperti materi pelajaran, sillabus dan RPP yang digunakan oleh guru Bahasa Inggris.

               

 

C. HASIL PENELITIAN

              Dari hasil penelitian menunjukan bahwa guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 01 Sedayu memiliki kompetensi professional guru yang baik dalam mencerminkan merdeka. Deskripsi singkat kegiatan belajar-mengajar disajikan pada bagian berikut.

 

Mengamati

              Menurut Ki Hadjar Dewantara belajar yaitu “kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipeloporiâ€, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi beasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri†Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952). Ucapan Subjek

Guru    : Apa Bahasa Inggrisnya “Kamu ke sekolah naik apa�

Siswa   : (Siswa diam)

Guru    :  Lohh, kenapa diam? Itu pasti karna kalian tidak practice?

Siswa   : Iya pak, kami tidak tahu.

Guru    : Itu karna kalian tidak tahu vocabnya. Tolong hapalin vocabnya yaaa

Siswa : Iya pak.

Guru : Bahasa inggrisnya adalah “How do you go to school.â€

Guru membantu siswa untuk mencari tahu tentang vocabulary di kehidupan sehari-hari dan guru ingin membuat siswa memahami vocabulary dengan mudah, karena guru menunjukkan hal yang nyata. siswa mengingat apa yang disampaikan dikelas. Yang kedua, siswa memperhatikan kosa kata yan baru mereka kenali dan mengingatnya dan memperhatikan hal-hal penting dalam penggunaan tenses yang digunakan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator dimana saat siswa tidak mengerti, guru memberikan jawaban kepada siswa.

 

Menanya

Menurut Ki Hadjar Dewantara Merdeka belajar  yaitu "kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri" Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952).

Guru    : Apa Bahasa Inggrisnya jauh?

Siswa   : Far, pak.

Guru    : Bagus. Kalua dekat?

siswa   : Near.

Guru  meminta mengartikan kata sifat Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris kepada siswa, kedua memfasilitasi siswa untuk melakukan proses kegiatan bertanya. Kemudian siswa memberikan umpan balik kepada guru dan jawabannya adalah kata sifat.

 

Mencoba

Menurut Ki Hadjar Dewantara Merdeka belajar  yaitu "kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri" Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952).

Guru    : ok anak anak coba membuka halaman lima puluh ya.

Siswa   : [Siswa membuka halaman buku dua puluh lima]

Guru    :  Oke, Coba kerjakan latihan yang ada dibuku LKS tersebut tentang kata sifat yang mendeskripsikan seseorang.

Siswa   : Para siswa mulai diam.

Guru    : Apa kalian paham dengan perintah tersebut?

Siswa : Paham bu.

Guru: Baik, kalua begitu silahkan dikerjakan.

Guru menggunakan perannya sebagai fasilitator dalam kegiatan percobaan. Pertama, guru meminta siswa untuk membuka buku. Yang kedua Guru bertanya kepada siswa tentang bagaimana mengerjakan latihan yang ada dibuku tersebut.

 

Mengasosiasi

Menurut Ki Hadjar Dewantara Merdeka belajar  yaitu "kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri" Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952).

 

Guru    : Oke baik, ibu ingin kalian mengerjakan berpasangan dan menyelesaikan latihan yang ada dibuku ini.

Siswa   : ia bu.

Guru    :  menurut kalian berapa lama anda mengerjakan tugas ini?

Siswa1 : Sepuluh menit bu

Guru    : apa betul sepuluh menit?

Siswa2: lima belas menit ibu

Guru    : baik  trimakasih, lima belas menit ya anak anak

 Siswa  : ia bu.( Siswa bekerja berpasang pasangan)

Guru memfasilitasi siswa untuk bekerja berpasangan dan untuk mendahului pemahaman mereka setelah mendapatkan informasi dari guru. Guru bertanya kepada siswa bagaimana lama ingin mengerjakan tugas yang diberikan dan siswa menjawab lima belas menit.

 

 

 

 

Mengomunikasi

Menurut Ki Hadjar Dewantara Merdeka belajar  yaitu "kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri" Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952).

 

Guru    : Oke baik, Sekarang saya ingin mengajak salah satu dari kalian untuk membaca hasil kerjan kalian terjemahkan kedalam bahasa indonesia ya, kalian paham?

Siswa   : ia bu.

Guru    :  silahkan siapa yang mau mmbaca nomor satu?

Siswa   : saya bu. (siswa membaca satu persatu teks jawaban mereka)

Guru    : baik terimakasih

Prosedur berkomunikasi pertama kali dimulai dalam kegiatan diskusi. Guru meminta siswa untuk menjawab tugas siswa dan menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dari buku LKS. Guru memberikan waktu kepada siswa menjawab tugas yang diberikan. Dan setelah menyelesaikan tugas siswa, guru meminta mereka untuk mempresentasikan hasilnya dengan membaca satu per satu. Data juga menunjukkan bahwa situasi kelas aktif yang disebabkan oleh beberapa siswa menjawab pertanyaan yang guru berikan.

 

 

Kesimpulan

              Kompetensi professional adalah suatu keahlian yang dimiliki seseorang dalam suatu bidang tertentu dan telah dapat memberikan sumbangan keprofesionalannya (ilmu pengetahuan) kepada masyarakat yang membutuhkan. Guru yang memiliki kompetensi professional adalah mereka menguasai materi dengan baik, mengembangkannya, menggunakan teknologi sebagai media pendukung pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari tahu pengetahuan dari berbagai sumber sehingga mencerminkan merdeka belajar kepada peserta didik.

              Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa sebagian guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 01 Sedayu memiliki potensi untuk menguasai materi dan mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris dalam mencerminkan merdeka belajar pada setiap diri siswa. 2 orang guru telah mengaplikasikan pengetahuan Bahasa Inggris di kelas-kelas yang bervariasi yakni kelas 7, 8, dan 9. Tidak semua yang belum memiliki kemampuan dasar Bahasa Inggris untuk mengajar. Sarana yang memadai seperti buku pelajaran, RPP, infokus, video, dan speaker sebagai materi ajar untuk mendukung guru dalam mengajar Bahasa Inggris.

Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi, peneliti menyimpulkan bahwa guru-guru di SMP Negeri 1 Sedayu telah mencerminkan merdeka belajar dalam kompetensi profesional yang cukup dalam mengajar bahasa Inggris berdasarkan Permendikbud No.103 Tahun 2014 dengan memfasilitasi kegiatan pengamatan, aktivitas bertanya, aktivitas eksperimen, aktivitas asosiasi, dan aktivitas komunikasi sebagai berikut:

a)      Dalam kegiatan mengamati, siswa melihat objek dengan jelas tentang sebuah surat lamaran pekerjaan jelas.

b)      Dalam kegiatan bertanya, antara siswa dan guru  saling bertanya dan menjawab  dengan baik, baik  secara individu maupun kelompok  tentang objek apa yangmereka diskusikan sebagai hasil dari kegiatan diskusi.

c)      Dalam kegiatan mencoba siswa mengalami secara langsung proses pembelajaran, baik pengalaman setelah mengamati, bertanya dan  kegiatan dalam bentuk diskusi.

d)      Dalam kegiatan mengasosiasikan, siswa memberi mereka latihan terjemahan  bahasa Indonesia tujuanya adalah untuk mengukur informasi atau wawasan yang mereka peroleh setelah melakukan latihan mengerjakan tugas mereka.

e)      Dalam kegiatan berkomunikasi, siswa kesempatan untuk mempresentasikan secara lisan hasil jawaban  berbicara dalam dalam proses belajar mengajar.

 

              Belajar yang baik dalam mencerminkan merdeka belajar, terbukti dengan menguasai materi pelajaran dengan baik, mengembangkan materi pelajaran, dan menggunakan teknologi sebagai media pendukung pada dasarnya untuk meningkatkan kompetensi professional dalam mencerminkan merdeka belajar bagi peserta didik dalam mencari pengetahuan dan keterampilan Bahasa Inggris dari berbagai sumber.

 

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


    

Biografi Penulis

Yulius Obeta Pendi

UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA

Referensi

Bibliography

Departmen Pendidikan Nasional. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Depdiknas.

Hamalik. Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Yogyakarta: Andi Offset.

Hamalik. (2006). Pendidikan Guru berdasarkan pendekatan kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara. Makalah tentang guru profesional.

Moleong, J. L. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. 168.

Standar Pendidikan Nasional. Nomor 19. Nomor, P. P. (2005).

Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. Alfabeta.

Stake, R. E. (1995). Multiple Case Study Analysis.

Undang-Undang Repuplik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Uno, H. Hamzah B. (2010) Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, M. U. (2004). Menjadi guru profesional. Makalah tentang guru profesional.

Yamin, M. 2007. Profeionalime Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press.

Unduhan

Diterbitkan

2020-05-05